Pengembangan Bakteri Antagonis

Menurut Per­aturan Menteri Pertanian No. 411 tahun 1995, pengendalian hayati adalah setiap organisme yang meliputi spesies, subspesies, varietas, semua jenis serangga, nematoda, protozoa, cendawan (fungi), bakteri, virus, mikoplasma, serta organisme lainnya dalam semua tahap perkembangannya yang dapat diper­gunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau organisme pengganggu, proses produksi, peng­olahan hasil pertanian, dan berbagai keperluan lainnya. Tahapan pengembangan bakteri antagonis sebagai agen pengendalian hayati dapat dilakukan melalui:

  1. 1. Seleksi Bakteri Antagonis

Seleksi dilakukan dengan mengisolasi calon agen pengendali hayati dari populasi alaminya, seperti kelompok mikroba saprofit atau nonpatogen, atau mutan yang tidak patogen. Pada tahap seleksi awal ini, informasi tentang keefektifan dan identitas calon agen pengendali hayati perlu dikua­sai dengan baik agar pengembangannya di masa datang tidak menjadi masalah. Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol telah melakukan penelitian tentang pengendalian Vibrio Harveyii secara biologis pada larva udang windu dan diperoleh dua isolat bakteri penghambat yaitu GSB-95030 dan GSB-95033 (Roza et al., 1998). Berdasarkan uji biokimia dan karakteristik biologis (lampiran 1), isolat GSB-95030 diidentifikasi sebagai Vibrio alginolyticus sedangkan isolat GSB-95033 diidentifikasi sebagai Flavobacterium meningosepticum.

Suatu strain dalam satu spesies dapat dijadikan sebagai agen pengendalian hayati tetapi strain yang lain dalam spesies tersebut mungkin tidak mempunyai kemampuan sebagai pengendali hayati terhadap patogen yang sama. Selain itu suatu strain dari suatu spesies mungkin dapat bersifat patogen tetapi strain lain dari spesies tersebut dapat digunakan sebagai pengendali hayati. Sebagai contohnya Vibrio alginolyticus. Strain dari bakteri Vibrio tersebut dapat digunakan sebagai agen pengendali hayati dalam budidaya salmon (S. salam), udang windu (Penaeus monodon) dan udang vannamei (Litopneaeus vannamei), walaupun strain lain dari Vibrio alginolyticus juga diketahui sebagai patogen.

  1. 2. Uji Efektivitas Bakteri Antagonis

Tahap kedua adalah menguji keefektifan agen pengendali hayati dalam kondisi terbatas dan homogen, misalnya dalam cawan petri in vitro, terhadap patogen target. Apabila suatu agen pengendali hayati menunjukkan penekanan terhadap patogen target, yang ditun­jukkan dengan terbentuknya zona hambatan maka dilakukan tahap pengujian terbatas dalam kondisi terkontrol. Penelitian tentang uji sensitivitas bakteri antagonis telah dilakukan oleh Roza et al., (1999) terhadap isolat GSB-95030 dan GSB-95033. Metode yang digunakan berupa sensitivity disc agar (SDA) (Gambar 7).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s